Showing posts with label tradisi unik. Show all posts
Showing posts with label tradisi unik. Show all posts

Thursday, May 5, 2011

Ritual Unik Suku Toraja Membersihkan dan Mengganti Busana Jenazah Leluhur

Tana Toraja di Sulawesi Selatan sudah lama terkenal dengan alam pegunungannya yang permai serta ritual adatnya yang unik. Yang paling tersohor, tentu saja, pesta Rambu Solo yang digelar menjelang pemakaman tokoh yang dihormati.

Tiap tahun pesta yang berlangsung di beberapa tempat di Toraja ini senantiasa mengundang kedatangan ribuan wisatawan.Selain Rambu Solo, sebenarnya ada satu ritual adat nan langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’, yakni ritual membersihkan dan mengganti busana jenazah leluhur.


Ritual ini memang hanya dikenal masyarakat Baruppu di pedalaman Toraja Utara. Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara.

Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.

http://torajacybernews.com/wp-content/uploads/2011/04/manene-300x240.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh47FlRYpoNZV7RsbaZ5J9eEgjCxJNr0h2t0g1PL1Of7oZBH4eBtTsNbQwcvLQFCeqvpMFrWdETz8dAScpHOBRI38Q-H35voKWrCHi_s2USthPRnrZU9xO0omM4_0TTd3Rwx4mY8zEalkOJ/s1600/26879_1195539983570_1680593833_384333_7108208_n.jpg

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQxgpWqPvE-vvg4Zu73DD-HrVsXMTJFF78sU9gzMCOXUjESBGxDdc2capS6Vz0ctEcM8X5FJOgxrpTU26OcWEGldqLJJo4tKZ6NmgLA8Hdvx6Tr7qhyphenhyphenjZOAc4DzK5M4eD3zZFraWLm9uU8/s1600/26879_1195539943569_1680593833_384332_3967715_n.jpg

Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.


Asal Muasal Ritual Ma' Nene' di Baruppu

Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, terlantar, tinggal tulang-belulang.

Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya.

Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu memperoleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.

Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya.

Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya.

Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.

Sumber :
situslakalaka.blogspot.com

Makna Tato Bagi Suku Dayak Kalimantan

Tato memang sudah menjadi trend di dunia luar sana, jadi simbol kebebasan memodif diri dan tubuh, tapi di negara kita Indonesia tato sudah ada sejak dahulu.

Jangan terkejut jika masuk ke perkampungan masyarakat Dayak dan berjumpa dengan orang-orang tua yang dihiasi berbagai macam tato indah di beberapa bagian tubuhnya. Tato bagi masyarakat Dayak bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna yang sangat mendalam.


Sebab tato bagi masyarakat Dayak tidak boleh dibuat sesuka hati sebab ia adalah sebahagian dari tradisi, status sosial seseorang dalam masyarakat, serta sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang.

Oleh karena itu, ada peraturan tertentu dalam pembuatan tato baik pilihan gambarnya, struktur sosial seseorang yang memakai tato maupun penempatan tatonya.

Meskipun demikian, secara realitasnya tato memiliki makna sama dalam masyarakat Dayak, yakni sebagai "obor" dalam perjalanan seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-xGszYiBgrYC5iRnZksHByl7BEiqB8-uJ9KvFHebIMOQTlzp1qugB7FZV66gt4CzWOxUkJs8QGjhWVQN7TtnILghbCyHELUJVB6Pt634VVz55iGbPGaURE-Qo7KOIgcGxl8mjeG79yIE/s640/tato-dayak.jpg
Bagi suku Dayak yang tinggal di sekitar Kalimantan dan Sarawak Malaysia, tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak tatoo di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin arif dalam ilmu pengobatan.

Bagi masyarakat Dayak Kenya dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya tato menggambarkan orang tersebut sudah kuat mengembara. Setiap kampung memiliki motif tato yang berbeda, banyaknya tato menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.

http://www.photojournale.com/data/media/175/tatto_hand_1.jpg
Berbeda pula dengan golongan bangsawan yang mamakai tato, motif yang lazim untuk kalangan bangsawan adalah burung enggang yakni burung endemik Kalimantan yang dikeramatkan.

Ada pula tato yang dibuat di bagian paha. Bagi perempuan Dayak memiliki tatoo di bagian paha status sosialnya sangat tinggi dan biasanya dilengkapi gelang di bahagian bawah betis.

Motif tato di bagian paha biasanya juga menyerupai simbol tato berbentuk muka harimau. Perbedaannya dengan tato di tangan, ada garis melintang pada betis yang dinamakan nang klinge.

http://s4.hubimg.com/u/1944739_f520.jpg
Tatoo sangat jarang ditemui di bagian lutut. Meskipun demikian, ada juga tatoo di bagian lutut pada lelaki dan perempuan yang biasanya dibuat pada bagian akhir pembuatan tato di badan. Tato yang dibuat di atas lutut dan melingkar hingga ke betis menyerupai ular, sebenarnya anjing jadi-jadian atau disebut tuang buvong asu.

Sumber : 

Saturday, March 5, 2011

Yuk Kita Lihat Suasana Keheningan dan Kesunyian Pulau Bali saat Nyepi



Pulau Bali dihuni 3,89 juta jiwa dan ribuan wisatawan mancanegara maupun nusantara yang menikmati liburan, terasa sunyi dan hening saat umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian menyambut Tahun Baru Saka 1933, Sabtu (5/4). Sejumlah tempat wisata dan pusat perekonomian lain yang sehari-hari diwarnai kemacetan lalu lintas berubah total menjadi sunyi senyap bagaikan pulau mati tanpa penghuni. Hal ini karena umat Hindu "mengurung" diri melaksanakan empat pantangan.

Pantangan yang wajib dijalani sambil melakukan introspeksi diri berlangsung selama 24 jam sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari terbit hingga pukul 06.00 waktu keesokan harinya. Tapa Brata Penyepian pada peralihan tahun saka 1932 ke 1933 meliputi amati karya (tidak bekerja dan tidak melakukan aktivitas), amati geni (tidak menyalakan api/listrik), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tanpa hiburan/bersenang-senang).

Suasana hening dan sunyi juga terlihat di pedesaan di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, dan sejumlah desa di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Hanya suara alam yang terdengar serta pepohonan diterpa angin.

Perumnas Monang-Maning Denpasar, kawasan pemukiman yang dihuni sekitar 2.500 kepala keluarga dari berbagai etnis di Nusantara menghormati Hari Raya Suci Nyepi. Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa pecalang (petugas keamanan desa adat) yang berjaga di ujung gang dan perempatan jalan.

Pemandangan serupa juga hampir terjadi di seluruh pelosok termasuk kawasan wisata Kuta, Nusa Dua, Sanur, dan kawasan wisata lainnya di Pulau Dewata. Wisatawan mancanegara yang sengaja berlibur di Bali bertepatan dengan Nyepi hanya diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hotel tempatnya menginap.

Deretan sejumlah hotel berbintang di Pantai Kuta dengan tingkat hunian yang cukup menggembirakan juga memberlakukan ketentuan bagi wisman secara ketat, sehingga pantai yang sehari-hari ramai sebagai tempat berjemur sambil menikmati deburan ombak juga tampak sunyi senyap. Pantai berpasir putih sepanjang enam kilometer itu bebas dari kunjungan wisman, hanya deburam ombak dan tiupan angin yang berembus sepanjang pantai.
 
http://cdn-u.kaskus.us/30/ggjlm8mi.jpg 
http://cdn-u.kaskus.us/30/zvgjzrvr.jpg 
 
http://cdn-u.kaskus.us/30/m4xstegj.jpg 
http://cdn-u.kaskus.us/30/uod45tzt.jpg 
http://cdn-u.kaskus.us/30/6nzmzom7.jpg
 
 
 
http://cdn-u.kaskus.us/30/svrydif7.jpg 
http://cdn-u.kaskus.us/30/q4xzqop5.jpg
http://cdn-u.kaskus.us/30/sofbfysk.jpg 
 
 
http://cdn-u.kaskus.us/30/hoqdyok4.jpg 
http://cdn-u.kaskus.us/30/nd9kickq.jpg
http://cdn-u.kaskus.us/30/jvs6nrd1.jpg 
 
 
sumber: www.kaskus.us [hot thread]
 
 
 
 
 
 
 

Wednesday, January 26, 2011

Inilah Cara Suku Dogon Menangkap Seluruh Ikan Di Sebuah Danau Dalam Hitungan Menit!

Dogon adalah nama dari kelompok suku yang menempati wilayah plato tengah Mali, di selatan sungai Niger. Saat ini suku Dogon berpopulasi sekitar 800 ribu jiwa. Suku Dogon sangat terkenal dan menjadi objek studi antropologi banyak ilmuwan. Mereka terkenal akan mitologi, kebudayaan serta arsitektur pemukimannya. Saat ini telah terjadi perubahan yang signifikan terhadap cara hidup, kebudayaan dan kepercayaan orang Dogon.

Orang-orang suku Dogon tersebut dapat menangkap ikan di Danau Suci Antogo hanya sekali dalam 1 tahun. Pada hari yang ditentukan, ribuan nelayan menangkap ikan di keranjang dengan terburu-buru, "membersihkan" seluruh isi danau dalam hitungan menit. Ini merupakan ritual yang unik dan menarik.

http://cdn-u.kaskus.us/17/sudwtgrp.jpg 

http://cdn-u.kaskus.us/17/s2dn3gds.jpg 

http://cdn-u.kaskus.us/17/z6y1dj8i.jpg 

http://cdn-u.kaskus.us/17/yc33oayz.jpg 

sumber: www.kaskus.us